Jumat, 22 Juni 2018

Allah pasti punya banyak rahasia untuk setiap makhluk Nya, yang kadang kita memang benar-benar tidak tau. Tapi Allah tidak pernah jahat, Allah selalu memberikan kehidupan yang terbaik untuk hamba-hamba Nya (AdeSof)

Malam ini, gue tersadar kalau semakin hari dunia maya semakin menyeramkan[apakah kalian juga?]. Beberapa jam yang lalu gue melihat tulisan bang alvi syahrin di instagram, dan ternyata tulisan beliau membawa gue untuk menulis ini, menulis tentang stereotype manusia dunia maya.

Kalau kata wikipedia, arti stereotype itu :
Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.

Ada 2 point inti dari definisi diatas (Penilaian) dan (Persepsi),
entah kenapa gue merasa banyak orang-orang yang dibutakan matanya akan ketenaran dan kebahagiaan semu yang ditampakkan di sosial media.

Coba, ketika kita buka sosmed? apa yang kita lihat?
kehidupan sempurna orang lain? family goals? relationship goals? academic goals? All about the good life, dan itu semua bikin kita mikir "hidup mereka sempurna, kecuali hidup kita".

Rasanya pikiran itu yang buat kita jadi pengen seperti mereka, pengen terkenal, pengen terlihat, pengen punya fans yang banyak, pengen punya uang secara instant, dan ujungnya pengen menjadi artist di sosmed (entah itu kita menyebutnya selebgram, youtuber, beauty vlogger, dll)

Kadang juga, mata kita dibutakan dengan hasil yang baru kita lihat, bukan proses di belakangnya, mungkin bagi orang lain, sosmed memang tempat untuk menunjukkan 'hasil' tanpa tahu bagaimana keras nya proses dibalik itu semua. Contohnya family goals ini, 

Ketika kita lihat satu keluarga yang sangat harmonis, setiap hari mereka menunjukkan kebahagiaan keluarga mereka, tentang lucunya anak-anak, masakan ibu yang enak, ayah yang mengajak anak nya bermain, pasti di kolom-kolom komentar kita akan menemukan komentar2 keinginan

"keluarganya seru banget, sayang keluarga gue gak kaya gini"
"ini family goals banget, kapan ya keluarga gue bisa kaya gini"

Pernah baca gak? begitupun dengan goals-goals yang lain, yang sama aja pola dan komentar nya, kembali ke kalimat
"hidup mereka sempurna, kecuali hidup kita".

Di satu sisi, melihat kesempurnaan2 di sosmed sepertinya bikin kita kurang bersyukur, kita gak tau bisa aja orang-orang yang hidup nya 80% di sosial media, yang menunjukkan goals-goals nya setiap saat, ternyata asli nya mereka kesepian, mereka memang banyak followers nya, tapi di kehidupan nyata nya, mereka tinggal sendiri tanpa punya teman bermain yang asli, atau keluarga yang terlihat bahagia, bisa saja asli nya mereka jarang bertemu dan kita gak pernah tau ada masalah apa yang ada di dalam nya

Semua itu terlihat begitu indah, karena jauh dari kenyataan nya.

Di kenyataan, kita tinggal dengan keluarga yang mungkin saja tidak menyentuh smartphone, tapi kehangatan nya begitu kental, teman kita tidak punya sosmed tapi kita bisa bermain seharian dengan nya, kita tidak kuliah di universitas ternama tapi kita bisa bahagia dengan jurusan dan kampus yang sekarang kita pilih.

Hei, syukur itu harus nomor satu, membandingkan nomor sekian.
susah memang dizaman digital seperti ini, stereotype manusia semakin sempit, terlebih di sosmed. Disana banyak sekali kepalsuan yang terlihat, ada orang-orang yang aslinya sangat introvert dan tertutup tapi sangat berbeda di sosial media, ada orang-orang yang lupa kehidupan nyata nya, dan begitu bangga dengan dunia maya nya, ada hal-hal kadang yang sebenernya tidak bisa kita jangkau, tapi kita memaksa untuk bisa di posisi yang sama seperti orang-orang


Astaghfirullah..

apakah itu tujuan hidup kita? diciptakan Allah di bumi? hanya untuk menjadi manusia yang di idam-idamkan orang lain? tanpa memperdulikan diri sendiri? 

Padahal, kita gak pernah tau ada rencana apa yang Allah siapkan untuk kita?
kalau kita ingin menjadi terkenal di bumi, terus kalau sudah terkanal bagaimana? apalagi yang ingin kita dapatkan?

Hmm.. kalau mau ngikutin stereotype manusia di sosmed itu gak akan ada habisnya, mereka akan selalu menuntut setiap waktu, dan itulah yang bikin kita lupa dengan kenyataan, yang sebenarnya lebih indah dari semua itu.

Kawan, hidup ini sebentar, 
aku tau kamu ingin seperti mereka, orang-orang yang memiliki karya yang luar biasa,
aku juga, ingin pergi meninggalkan karya yang baik, tapi percayalah di kenyataan Allah sudah mengatur kebahagiaan kita di titik Nya masing-masing, bisa saja mereka dan kita memang tidak sama titik nya, tapi jika kamu melihat kehidupan mereka yang begitu indah?  itu hanya karena kamu berada di posisi yang jauh saja, nanti jika posisimu sudah dekat atau ada di titik yang sama dengan dia yang kamu inginkan selama ini, pasti kamu akan tau rasanya seperti apa.

Semoga syukur kita setiap waktu selalu bertambah dan semakin yakin, kalau hidup kita sempurna tanpa melihat kehidupan orang lain.


4 komentar

masih mending socmednya konten hasil karya.

Kalau kontennya berisi video gak jelas tentang Iqbal? wkwkwk..

Anehnya followers orang gila itu banyak pula.

Masih bingung sama orang indoIndon kenapa orang seperti itu dikasih panggung..

REPLY

Kenapa? Karena memang itu yang ditampilkan secara terus-menerus. Semacam percobaan tikus yang dikasih tahu makanannya udah siap ketika bel dibunyikan.

Jadinya ya gitu, behind the scene nya udah terbias.

Memang kadang, aku sih, lupa gitu loh. They're showing us how beautiful their life is, sehingga bikin kita pingin kaya gitu, padahal hubungan kausalitas kehidupan kita sangat berbeda.

Hehehehehehe.

Ga ada jalan lain emang selain bersyukur. And somehow it's forgotten plus difficult hehehehehe.

REPLY

mungkin ya bagi orang2 indo, dia itu uniq dan pede banget kali ya,
makanya banyak yg follow, padahal ga ada faedah2 nya haha

REPLY

hahaha iya benar,
syukur sama sabar itu masyaAllah banget sulit nya,
kadang mudah berucap tapi sulit di praktekkan..

ya bismillah, semoga kita terhindar dari pernyakit kurang bersyukur hehe
thankyou sudah komen :)

REPLY

Ade Sofiarani . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates